Kalah di Ajang Daerah Berprestasi 2026, Metro Diingatkan: Stabil Saja Tak Cukup untuk Menang
LAMPUNGKU.ID, METRO Absennya Kota Metro dalam daftar penerima penghargaan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 di Palembang pada Sabtu (25/4/2026) memantik perdebatan di kalangan pemerhati kebijakan.
Kondisi ini dinilai bukan sekadar sinyal kegagalan, melainkan alarm bahwa tata kelola pemerintahan Metro perlu segera ditingkatkan agar mampu bersaing dalam iklim kinerja yang kian kompetitif.
Pengamat kebijakan dari Universitas Dharma Wacana Metro, Dr. (Cand.) Ari Gusnita, menilai hasil tersebut tidak perlu disikapi secara reaktif, tetapi juga tidak boleh dianggap sepele. Menurut dia, dalam sistem penilaian berbasis capaian, posisi Metro saat ini menunjukkan adanya ruang perbaikan yang cukup lebar.
“Ini bukan soal Metro tidak bekerja. Tetapi dalam kompetisi antardaerah, kerja harus bisa dibuktikan, diukur, dan dibandingkan. Di situlah Metro tampaknya belum cukup menonjol,” ujar Ari saat dimintai tanggapan terkait kehadiran Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, bersama sejumlah pejabat dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 di Palembang tanpa membawa pulang penghargaan apa pun, Senin (27/4/2026).
Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 merupakan ajang yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama detikcom untuk mendorong peningkatan kualitas kinerja pemerintah daerah, khususnya di wilayah Sumatera.
“Dari informasi berbagai sumber, kegiatan yang berlangsung pada 25–26 April 2026 di Palembang itu menilai daerah berdasarkan empat indikator utama, yakni pengendalian inflasi, pembiayaan kreatif (creative financing), penurunan kemiskinan dan stunting, serta penurunan tingkat pengangguran,” terang Ari.
Sejumlah daerah tercatat mampu menunjukkan performa unggul. Bandar Lampung, Medan, dan Palembang menonjol dalam kategori pembiayaan kreatif tingkat kota.
Sementara itu Kabupaten Bintan, Lampung Selatan, dan Batu Bara mencatat capaian serupa di tingkat kabupaten. Pada kategori lain, Provinsi Bengkulu dinilai berhasil dalam pengendalian inflasi, sedangkan Solok Selatan, Kepulauan Mentawai, dan Dairi menunjukkan kinerja positif dalam penurunan pengangguran.
Di tengah deretan capaian tersebut, Metro belum masuk dalam daftar penerima penghargaan. Namun Ari mengingatkan, kegagalan ini tidak boleh dimaknai sebagai kegagalan total, melainkan sebagai penanda bahwa daya saing kebijakan di Kota Metro masih perlu diperkuat.
“Dalam konsep tata kelola berbasis kinerja (performance-based governance), yang dinilai bukan aktivitas, tetapi hasil. Jadi ukuran keberhasilan bukan lagi seberapa banyak program, tetapi seberapa besar dampaknya,” tegas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Dharma Wacana Metro itu.
Menurut Ari, Metro sebenarnya memiliki sejumlah indikator yang relatif stabil, misalnya inflasi yang terkendali. Namun, stabil saja dinilai belum cukup dalam kompetisi berbasis kinerja.
Pada aspek pembiayaan kreatif, ia melihat Metro masih memiliki ruang pengembangan yang luas. Ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disebutnya masih menjadi tantangan umum bagi daerah dengan kapasitas fiskal terbatas.
“Kompetisi seperti ini mencari yang terbaik, bukan yang cukup baik. Jadi daerah harus mampu menunjukkan keunggulan, bukan sekadar kestabilan.
Ke depan, pemerintah daerah perlu memperluas skema pembiayaan melalui kolaborasi, investasi, dan optimalisasi aset. Ini bukan hal mudah, tetapi menjadi kebutuhan dalam tata kelola modern,” jelasnya.
Pada penanganan kemiskinan dan stunting, Ari menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor yang lebih terintegrasi. Program yang berjalan, menurut dia, perlu lebih terhubung agar menghasilkan dampak yang nyata dan terukur.
“Masalah sosial tidak bisa diselesaikan oleh satu dinas. Dibutuhkan kerja bersama, dari kesehatan, sosial, pendidikan, hingga ekonomi,” cetusnya.
Hal serupa juga terlihat pada sektor ketenagakerjaan. Meski angka pengangguran di Metro relatif terkendali, Ari menilai perlu ada penguatan pada aspek keberlanjutan program.
“Pelatihan kerja sudah banyak, tetapi tantangannya adalah memastikan ada keterhubungan dengan pasar kerja. Ini yang perlu diperkuat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan data dan bukti kinerja. Dalam penilaian seperti ini, pemerintah daerah dituntut mampu menunjukkan capaian berbasis data yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan.
Meski demikian, Ari menilai Metro tidak kekurangan potensi. Sebagai kota berbasis pendidikan dan jasa, Metro dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk berkembang lebih cepat.
“Bukan hanya kegiatan yang dilaporkan, tetapi perubahan yang bisa dibuktikan. Ini yang menjadi standar baru dalam penilaian kinerja. Potensinya ada, tinggal bagaimana dirancang menjadi kebijakan yang lebih terarah dan terukur,” ujarnya.
Ari juga mengingatkan pentingnya sinergi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) serta kolaborasi dengan pihak eksternal, seperti perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.
Di sisi lain, ia mendorong agar DPRD Kota Metro memainkan peran pengawasan yang lebih konstruktif, dengan fokus pada capaian kinerja, bukan sekadar aspek administratif.
“Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan yang kompleks. Tetapi pengawasan yang baik adalah pengawasan yang mendorong perbaikan, bukan sekadar kritik. Nah, itu perannya ada di DPRD Kota Metro,” katanya.
Ari menegaskan, ajang penghargaan seperti ini sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan instrumen untuk mengukur posisi dan mendorong perbaikan.
Ke depan, ia menyarankan agar Metro mulai membangun sistem kendali kinerja yang lebih terintegrasi sehingga setiap program dapat dipantau dan dievaluasi secara berkala.
“Penghargaan itu bonus. Yang utama adalah bagaimana masyarakat merasakan hasil pembangunan. Kalau ingin bersaing, maka harus ada sistem yang memastikan setiap kebijakan bergerak menuju hasil yang jelas. Karena Metro ini tidak sedang tertinggal jauh, tetapi juga belum berada di barisan terdepan. Ini momentum untuk berbenah, bukan untuk saling menyalahkan,” tandasnya.(*)



