BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla di Sumatera Selatan

BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla di Sumatera Selatan
BMKG mensupervisi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) / Foto BMKG

LAMPUNGKU.ID, SUMATERA SELATAN Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan supervisi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menangani darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan.

Langkah ini menyusul penetapan status siaga darurat bencana asap sejak 22 April 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa penguatan langkah pencegahan menjadi kunci di tengah ancaman musim kemarau dan potensi pengaruh El Nino tahun 2026.

“Langkah preventif perlu diperkuat seiring prediksi masuknya musim kemarau dan potensi pengaruh El Nino pada tahun 2026 yang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla,” ujar Teuku Faisal Fathani. Jum'at,(8/5/2026). (dikutip dari Instragram BMKG)

BMKG memprakirakan wilayah Sumatera Selatan akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, sehingga risiko kekeringan dan meluasnya titik api dinilai semakin tinggi.

Dalam pelaksanaan OMC, BMKG memanfaatkan data _real-time_ tinggi muka air tanah di lahan gambut. Data ini digunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam penyemaian awan guna menjaga kelembapan lahan dan mencegah potensi kebakaran meluas.

Pelaksanaan OMC dipusatkan di Posko Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang pada 5–14 Mei 2026. Operasi ini didukung oleh BNPB, Lanud Sri Mulyono Herlambang, serta PT Makson Sukses Pratama sebagai operator pesawat.

Hingga saat ini, tim gabungan telah melaksanakan lima sorti penerbangan penyemaian awan dengan total waktu terbang 9 jam 45 menit. Sebanyak 5.000 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl) telah disebarkan ke awan potensial hujan.

BMKG menekankan pentingnya kerja bersama berbasis data agar pelaksanaan OMC tepat sasaran.

“Kolaborasi lintas sektor yang didukung data terus kami perkuat agar OMC benar-benar tepat sasaran, terutama untuk menjaga kondisi lahan gambut dan menekan risiko meluasnya titik api selama musim kemarau 2026,” kata Teuku Faisal Fathani.(*)

Editor: Muklis