Kekecewaan Warga Dusun Pulosari: Aksi Tutup Akses Jalan Menuju Sekolah Akibat Polemik Penerimaan Siswa Baru
LAMPUNGKU.ID, LAMPUNG TIMUR Ketegangan menyelimuti kawasan pendidikan di Kecamatan Labuhan Ratu setelah warga Dusun Pulosari memblokade jalan utama menuju SMAN 1 Labuhan Ratu, Jumat (17/7/2026).
Aksi ini merupakan puncak kekecewaan masyarakat setelah sejumlah calon siswa setempat dinyatakan gugur dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini.
Aksi protes tidak berhenti pada pemblokiran jalan. Warga yang berang juga menutup saluran drainase yang mengalir dari area sekolah menuju lahan milik penduduk.
Tak hanya itu, fasilitas rumah ibadah di lingkungan sekolah dikabarkan dilarang untuk digunakan dalam kegiatan resmi pihak sekolah sebagai bentuk protes keras warga.
Ketidakadilan menjadi poin utama yang disuarakan. Pasalnya, tanah tempat SMAN 1 Labuhan Ratu berdiri merupakan lahan hibah dari masyarakat Dusun Pulosari sejak tahun 2005.
Warga merasa kontribusi leluhur mereka tidak dihargai oleh sistem penerimaan saat ini.
Salah seorang warga, Teguh, mengungkapkan kegundahannya atas situasi tersebut. "Sekolah ini dibangun di atas lahan yang kami hibahkan secara sukarela. Namun, kenyataannya anak-anak kami justru tidak mendapatkan tempat untuk menimba ilmu di sini. Di mana letak keadilannya?" tuturnya dengan nada kecewa.
Data menunjukkan bahwa persaingan masuk ke sekolah tersebut memang sangat ketat. Dari total 430 pendaftar, hanya 324 siswa yang berhasil terjaring melalui berbagai jalur, mulai dari domisili hingga prestasi.
Namun, bagi orang tua seperti Sahrun, angka-angka teknis tersebut seolah mengabaikan aspek sosial kemasyarakatan.
"Harapan kami menghibahkan tanah ini sangat sederhana, yakni agar generasi muda di lingkungan kami memiliki akses pendidikan yang mudah. Saat anak kami sendiri tertolak, tentu ini menjadi luka mendalam," ujar Sahrun.
Menanggapi gejolak tersebut, Kepala SMAN 1 Labuhan Ratu, Mulyadi, menyatakan bahwa pihaknya hanya menjalankan prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
"Seluruh tahapan seleksi telah kami laksanakan berdasarkan petunjuk teknis yang berlaku secara nasional. Mengenai aksi warga menutup akses jalan, kami menghormati itu sebagai hak mereka," jelasnya singkat.
Hingga saat ini, suasana di lokasi masih terpantau kondusif meski akses tetap tertutup.
Kabarnya, mediasi antara warga, pihak sekolah, dan pemerintah daerah akan segera digelar guna mencari solusi terbaik demi keberlangsungan pendidikan di wilayah tersebut.(*)

