Prosesi Turun Mandei, Kukuhkan Pangdam Radin Inten dalam Keluarga Adat Lampung
LAMPUNGKU.ID, LAMPUNG SELATAN Suasana khidmat dan sarat nilai budaya mewarnai prosesi adat Turun Mandei dalam rangkaian Begawi Festival 2026 yang digelar di Radin Inten Beach, Pantai Pasir Putih, Desa Rangai Tri Tunggal, Kecamatan Ketibung, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Sabtu (11/7/2026).
Dalam momen bersejarah tersebut, Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, resmi dikukuhkan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung.
Prosesi adat yang penuh makna ini menjadi penutup sekaligus penyempurna rangkaian penganugerahan gelar adat Pangeran Satria Negara kepada Pangdam XXI/Radin Inten.
Pengukuhan tersebut menandai diterimanya Mayjen TNI Kristomei Sianturi sebagai keluarga adat Lampung dengan komitmen menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kehormatan, dan tanggung jawab sosial.
Dalam tradisi adat Lampung, Turun Mandei merupakan salah satu tahapan penting yang memiliki makna mendalam. Prosesi diawali dengan Kanjauan atau penyambutan tamu, yakni penerimaan rombongan keluarga besar yang membawa seserahan adat dengan iringan alat musik tradisional Lampung.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan Tari Cangget Agung, tarian sakral yang dibawakan para muli mekhanai sebagai bentuk penghormatan sekaligus menjadi saksi kehormatan atas prosesi adat yang sedang berlangsung.
Tahapan penting berikutnya adalah Nguruk di Way atau Turun Mandei, yaitu prosesi mengantarkan calon penyandang gelar menuju sumber air sebagai simbol penyucian lahir dan batin sebelum mengemban amanah adat yang baru.
Puncak prosesi ditandai dengan Cakak Pepadun, ketika calon penyandang gelar menaiki singgasana kayu berukir sebagai lambang pengesahan sekaligus pengumuman resmi gelar adat oleh para pemangku adat.
Salah satu tokoh adat Lampung dalam sambutannya menegaskan, prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan ikrar budaya yang mengikat.
“Turun Mandei dan Cakak Pepadun adalah bentuk pengukuhan bahwa yang bersangkutan diterima sebagai bagian dari keluarga adat dengan segala hak dan kewajibannya. Ini bukan hanya kehormatan, tetapi juga amanah untuk menjaga nama baik dan nilai-nilai luhur masyarakat Lampung,” ujar seorang pemangku adat dalam prosesi tersebut.
Mayjen TNI Kristomei Sianturi menyampaikan apresiasi dan rasa hormatnya atas kepercayaan yang diberikan.
“Penganugerahan gelar adat dan penerimaan saya dalam keluarga besar adat Lampung merupakan kehormatan yang sangat tinggi. Saya berkomitmen untuk ikut menjaga, melestarikan, dan memajukan budaya Lampung sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ucapnya.
Sebelumnya, rangkaian Begawi Festival 2026 juga dihadiri sejumlah tokoh adat Lampung dari unsur Saibatin maupun Pepadun. Hadir di antaranya Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bergelar Suttan Tihang Negara, Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis bergelar Pangeran Dewantara, Ansyori Sabak bergelar Suttan Rajo Putra Negara, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama bergelar Khadin Sampurna, serta Presiden BEM Universitas Lampung Aditiya Putra Bayu berjuluk Sangun Rajo.
Selain Turun Mandei, kegiatan juga dirangkaikan dengan prosesi Angkon Muakhi, yakni tradisi pengukuhan ikatan persaudaraan adat antara Pangdam XXI/Radin Inten dengan Gubernur Lampung, para tokoh adat, dan tokoh daerah lainnya. Tradisi ini menjadi simbol kuat nilai-nilai luhur masyarakat Lampung yang mengedepankan persaudaraan, kebersamaan, serta semangat gotong royong.
Begawi Festival 2026 turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, jajaran Kodam XXI/Radin Inten, Forkopimda Provinsi Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan, Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis beserta para kepala dinas dan asisten, para pemangku adat, akademisi Universitas Lampung, mahasiswa, serta berbagai elemen masyarakat.
Melalui kegiatan ini, seluruh pemangku kepentingan kembali menegaskan komitmen bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskan budaya Lampung sebagai identitas daerah yang menjadi perekat persaudaraan dan kebanggaan masyarakat.
“Begawi Festival bukan hanya agenda seremonial, tetapi ruang bersama untuk merawat ingatan kolektif dan memperkuat jalinan persaudaraan melalui adat dan budaya,” tutur salah satu tokoh adat menutup rangkaian acara.(*)

