Lampung Rebut Juara 1 Newsroom Timnas

Lampung Rebut Juara 1 Newsroom Timnas
Perwakilan Lampung Newsroom Timnas /foto: fahri

LAMPUNGKU.ID, JAWA TENGAH Pagi itu, semangkuk bubur bukan lagi sekadar sarapan. Ia menjelma perkara.

Di sebuah warung bubur di Semarang, Jawa Tengah, dua kelompok berdiri pada keyakinannya masing-masing. 

Yang satu percaya bubur harus diaduk hingga ayam, kuah, kecap, bubur, dan kerupuk melebur menjadi satu. Yang lain bersikukuh, setiap lapisan harus dibiarkan pada tempatnya.

Perdebatan sederhana itu kemudian dibawa ke panggung Semarang Newsroom, perlombaan dari kegiatan TIMNAS (Temu Insan Media dan Migas Regional Jawa) yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, 30 September hingga 2 Oktober 2026.

Peserta perlombaan Semarang Newsroom diikuti puluhan wartawan dari Pulau Jawa. Sementara perwakilan Lampung hanya enam orang.

Perwakilan Lampung melalui Pandawa TV menjadikan perkara bubur tersebut sebagai cerita jurnalistik yang ringan, jenaka, dan penuh kejutan.

Hasilnya: Juara 1 Semarang Newsroom.

Konsep “Bubur Diaduk Vs Bubur Tidak Diaduk” menyulap persoalan yang mungkin dianggap sepele menjadi sebuah creative news story. 

Ada konflik, ada narasumber, ada reporter, ada pembeli yang mengaku netral, dan tentu saja ada penjual bubur yang ternyata menyimpan kepentingannya sendiri.

Di tengah cerita itu, Wirahadikusumah tampil sebagai anchor. Fahri turun langsung sebagai reporter. Muklis menjadi suara dari kubu bubur diaduk, sementara Andi S. Panjaitan membela kubu bubur tidak diaduk.

Edi Arsadad mengambil posisi sebagai pembeli netral. Sedangkan Andono tampil sebagai penjual bubur.

Semua bermula dari satu pertanyaan sederhana:

Bubur harus diaduk atau tidak?

Namun, seperti banyak perkara dalam kehidupan, pertanyaan sederhana ternyata bisa melahirkan perdebatan panjang.

Konflik di Dalam Semangkuk Bubur

“Selamat malam, pemirsa. Pandawa TV dalam segmen Semarang Newsroom kembali menyapa Anda.”

Begitu pembuka yang disampaikan Wirahadikusumah sebagai anchor.

Lalu konflik diperkenalkan.

Bukan politik. Bukan sepak bola. Bukan pula harga cabai. Melainkan bubur.

“Ada konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan mungkin lebih lama daripada hubungan kita dengan mantan.”

Kalimat itu menjadi pintu masuk menuju perdebatan.

Di satu sisi, kelompok bubur diaduk merasa semua rasa harus menyatu. Di sisi lain, kelompok bubur tidak diaduk menganggap setiap unsur dalam mangkuk memiliki tempat dan kehormatannya sendiri.

Reporter Fahri kemudian bergerak ke lokasi.

Di warung bubur, aroma ayam, daun bawang, kuah, dan kerupuk bercampur dengan suara perdebatan.

“Di sebelah kanan saya ada kelompok Bubur Diaduk. Dan di sebelah kiri ada kelompok Bubur Tidak Diaduk,” ujar Fahri.

Keduanya sama-sama merasa paling benar.

Bagi Muklis, bubur tanpa diaduk adalah persoalan rasa.

“Kalau tidak diaduk, rasanya tidak merata. Ayam di atas, bubur di bawah. Kecap di pojok, kuah di tengah. Itu bukan bubur, Bang. Itu peta wilayah.”

Sementara Andi S. Panjaitan melihatnya dari sudut berbeda.

“Pertama ayam. Kemudian kuah. Kemudian bubur. Kemudian kerupuk. Semua punya tempat.”

Ketika ditanya apakah rasa tidak menjadi kurang merata, jawabannya justru melebar ke wilayah kehidupan.

“Hidup juga tidak selalu merata.”

Untuk sesaat, wawancara tentang bubur berubah seperti seminar filsafat.

Penjual yang Memilih Kepentingannya Sendiri

Fahri kemudian menemui orang yang setiap hari berhadapan dengan bubur: penjualnya.

Pertanyaan yang diajukan sederhana. Lebih enak bubur diaduk atau tidak?

“Terserah pembeli.”

Lalu ketika ditanya pilihan pribadinya, jawabannya membuat perdebatan semakin rumit.

“Saya diaduk.”

Kubu bubur diaduk seolah mendapat kemenangan.

Namun ternyata tidak.

“Saya diaduk,” kata Andono, “kalau saya nggak diaduk, buburnya tidak laku.”

Di titik itu, muncul sebuah kesimpulan baru. Ia bukan Tim Bubur Diaduk. Bukan pula Tim Bubur Tidak Diaduk. Ia adalah Tim Bubur Terjual.

Sebab bagi penjual, perdebatan filosofis soal bubur pada akhirnya bermuara pada satu hal: dagangan harus laku.

Ketika Sendok Hampir Menjadi Alat Diplomasi

Perdebatan pun memanas.

“Kalau makan bubur tidak diaduk, rasanya tidak menyatu!”

“Kalau diaduk, tampilannya jadi berantakan!”

“Yang penting rasa!”

“Yang penting estetika!”

“Ini bubur, bukan foto Instagram!”

“Justru karena bubur, harus estetik!”

Sendok mulai dipegang lebih erat.

Belum diketahui apakah sendok itu akan digunakan untuk menyantap bubur atau menjadi alat diplomasi.

Di tengah ketegangan itu, muncul Edi Arsadad. Ia mengaku netral.

Ketika ditanya apakah berada di kubu bubur diaduk atau tidak diaduk, jawabannya tegas. “Saya netral.”

Namun ketika ditanya bagaimana buburnya, jawabannya justru mengejutkan. “Saya pesan soto.”

Netralitas ternyata bisa sesederhana menghindari konflik.

Plot Twist: Ini Bukan Soal Bubur

Cerita kemudian memasuki babak yang lebih mengejutkan.

Penelusuran reporter menemukan fakta yang tak terduga.

Orang yang selama ini tampak berada di tengah perdebatan ternyata memiliki strategi sendiri.

Penjual bubur.

Ketika dikonfrontasi dengan fakta bahwa ia pernah terlihat tidak mengaduk buburnya, Andono memberikan alasan sederhana.

“Itu saya lagi diet.”

Alasannya?

Kalau bubur diaduk, cepat habis. Kalau tidak diaduk, makannya lebih lama.

Maka terungkaplah identitas sebenarnya. Ia bukan Tim Bubur Diaduk. Bukan pula Tim Bubur Tidak Diaduk. Ia adalah Tim Bubur Awet.

Sebuah plot twist yang membuat perdebatan tentang bubur tiba-tiba menemukan makna lain. Ternyata, tidak semua perkara menyangkut prinsip.

Kadang, ia hanya soal strategi. Dari Semangkuk Bubur, Sebuah Pelajaran

Di akhir laporan, Fahri menarik satu kesimpulan.

Bubur yang diaduk akan tetap masuk perut.

Bubur yang tidak diaduk juga akan tetap masuk perut.

Yang tidak masuk perut adalah bubur ketika seseorang tidak punya uang.

Dari warung sederhana itu, Pandawa TV kemudian membawa persoalan bubur kembali menjadi persoalan manusia: bagaimana perbedaan tidak harus berakhir menjadi pertengkaran.

Kembali ke studio, Wirahadikusumah menutup siaran dengan kalimat yang sekaligus menjadi punchline.

“Jangan pernah menghakimi seseorang hanya karena cara dia mengaduk bubur.”

Sebab seseorang mungkin bukan Tim Bubur Diaduk. Bukan pula Tim Bubur Tidak Diaduk.

Bisa jadi ia hanya: Tim Belum Bayar.

Dan malam itu, semangkuk bubur bukan sekadar bubur. Ia menjadi panggung kecil tempat kreativitas, humor, dan jurnalistik bertemu.

Dari panggung itulah perwakilan Lampung membawa pulang Juara 1 Semarang Newsroom.

Hadiah diserahkan Kepala Departemen Komunikasi SKK Migas, Hadariat Kuncara Zakty, kepada Ketua PWI Lampung, Wirahadikusumah.

Hadariat mengapresiasi kreativitas peserta yang mampu mengolah tema sederhana menjadi sajian jurnalistik yang menarik dan menghibur. 

Menurutnya, Semarang Newsroom menjadi ruang bagi insan media untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mempererat komunikasi dan silaturahmi antara insan pers dengan industri hulu migas.

Wirahadikusumah menyampaikan apresiasi kepada SKK Migas, Pertamina EP Regional Jawa, PHE ONWJ, dan PHE OSES yang telah memberikan ruang bagi insan media untuk berkreasi.

“Penghargaan ini menjadi kebanggaan bagi kami, khususnya perwakilan Lampung. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan karena selain mempererat silaturahmi, juga memberikan ruang bagi wartawan untuk mengembangkan kreativitas dalam menyajikan karya jurnalistik,” ujarnya.

TIMNAS sendiri menjadi wadah pertemuan dan silaturahmi insan media dengan pemangku kepentingan industri hulu migas Regional Jawa.

Di Semarang, sebuah cerita sederhana tentang bubur membuktikan satu hal: jurnalistik tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar. Kadang, sebuah mangkuk bubur pun cukup untuk melahirkan cerita. Asalkan ada cara untuk melihatnya.(*)

Editor: Muklis